Pola –Pola Pernafasan
1. Normal (eupnea) : teratur dan frekuensi 12 – 20 x/ menit
2. Tachypnea :frekuensi nafas > 20 x/ menit
3. Bradipnea: frekuensi nafas < 12 x/ menit
4. Hiperventilasi : cepat, bernafas dalam > 20 x/ menit
5. Apneustik : neurologi – upaya mempertahankan pernafasan
6. Cheyne - Stokes : neurologi – gangguan pola nafas dalam di selingi periode apneu
7. Kussmaul’s : cepat, dalam dan sukar bernafas – pada diabetes ketoasidosis
8. Air trapping : kesulitan bernafas saat ekspirasi – pada empisema
Suara Paru – Paru
Ralles (Crackles)
- Seperti pergesekan rambut
- Terdengar pada saat inspirasi pada bagian bawah (bases)
- Tidak hilang oleh batuk
- Terkait dengan bronchitis, gagal jantung dan pneumonia
Wheezes
- Bernada tinggi, suara nyaring
- Baik terdengan saat ekspirasi pada semua area paru
- Tidak hilang dengan batuk
- Terkait dengan asma, bronchitis, gagal jantung dan empisema
Ronchi
- Kasar, keras
- Baik terdengar saat ekspirasi diatas bronchi dan trachea
- Sering hilang oleh batuk
- Terkait dengan bronchitis dan pneumonia
Stridor
- Keras, bernada tinggi dan dapat terdengar
- Mudah terdengar tanpa stetoskop selama inspirasi dan ekspirasi
- Indikasi penyempitan pada saluran pernafasan atas dan dapat mengancam kehidupan, membutuhkan perhatian segera
- Terkait dengan obstruksi parsial jalan nafas, epiglotitis
Suara nafas unilateral
- Suara nafas tidak terdengar simetris
- Terkait dengan pneumothorax, tensi pneumotorax, hemothorax atau riwayat pneumectomy
Sabtu, 08 Oktober 2011
Mengukur Resiko Dekubitus
Sebenarnya untuk pengukuran sekala resiko dekubitus ada 3 tapi yang saya post cuman 2 karena ada sesuatu dan lain hal. jika emang perlu bisa hubungi saya,
Skala Gosnell untuk mengukur resiko dekubitus
Item | Skor |
Status mental · Sadar · Apatis · Bingung · Stupor · Tidak sadar Kontinensia · Kontrol penuh · Kontrol sering · Kontrol minimal · Kehilangan control Mobilisasi · Penuh · Agak terbatas · Sangat terbatas · Imobilisasi Aktivitas · Ambulasi · Jalan dengan bantuan · Diatas kursi · Tirah baring Nutrisi · Baik · Sedang · Buruk | 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 |
Skor total |
Skala Braden untuk mengukur resiko dekubitus
Item | Skor |
Persepsi sensorik · Terbatas total · Sangat terbatas · Sedikit terbatas · Tidak ada gangguan Kelembaban · Kelembaban kulit yang konstan · Sangat lembab · Kadang-kadang lembab · Jarang lembab Aktivitas · Tirah baring · Diatas kursi · Kadang-kadang berjalan · Sering berjalan Mobilisasi · Imobilisasi total · Sangat terbatas · Agak terbatas · Tidak terbatas Nutrisi · Sangat buruk · Mungkin kurang · Cukup · Baik Friksi dan gesekan · Masalah · Masalah yang berpotensi · Tidak ada masalah | 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 |
Total skor |
Risiko dekubitus jika skor total ≤ 16
KOPING TERHADAP KEHILANGAN, KEMATIAN DAN DUKACITA
1. Identifikasi masing-masing tindakan keperawatan yang harus dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan pada pasien menjelang ajal dan kematian dari aspek :
a) Physiological needs
b) Promoting comfort
c) Hospiece care
d) Home care
e) Psychososial needs
f) Spiritual needs
g) Support for the family
h) Learning needs of client and family
2. Susun kata-kata atau kalimat (respon verbal) perawat dalam setiap tahap berduka menurut Kubler Ross !
3. Apa respon non verbal yang harus ditunjukkan perawat dalam setiap tahap berduka menurut Kubler Ross ?
4. Apa yang anda ketahui tentang Algor Mortis, Liver Mortis, dan Rigor Mortis pada pasien yang telah meninggal ?
5. Sebutkan mekanisme koping yang harus digunakan perawat dalam menghadapi pasien yang dalam kondisi sakaratul maut !
JAWABAN :
1. Tindakan perawat dalam perawatan dan pemenuhan kebutuhan pasien menjelang ajal (masing-masing dua tindakan) dikaitkan dengan aspek-aspek berikut:
a. Kebutuhan fisiologis
Pemenuhan kebutuhan klien menjelang ajal berkaitan dengan pemenuhan nutrisi berbeda dengan klien yang kondisinya normal. Kondisi pasien yang menjelang ajal sudah tidak mampu untuk mencerna makanan seperti biasa. Oleh karena itu, tindakan perawat dalam pemenuhan nutrisi pasien seperti ini membutuhkan tindakan berbeda. Pemenuhan nutrisi klien dapat diusahakan oleh perawat dengan mengganti asupan nutrisi biasa menggunakan asupan nutrisi melalui cairan atau infus.
Kebutuhan fisiologis lainnya yaitu oksigen. Semua makhluk hidup termasuk klein atau pasien membutuhkan oksigen untuk bernapas. Pasien dengan kondisi menjelang ajal juga diperlakukan secara humanistik dan tidak dibedakan dengan pasien dengan harapan hidup yang lebih tinggi. Kemampuan pasien dengan kondisi seperti ini sudah sulit untuk memenuhi kebutuhan oksigen dengan cara yang biasa. Perawat bertugas untuk memberikan tindakan untuk membantu pasien untuk dapat memenuhi kebutuhan oksigenasinya, salah satunya dengan memberikan alat bantu pernapasan.
b. Peningkatan kenyamanan
Upaya atau tindakan perawat dalam meningkatkan kebutuhan akan kenyamanan pasien salah satunya yaitu dengan mengondisikan lingkungan pasien. Tujuannya adalah untuk meningkatkan rasa nyaman pasien dengan lingkungan disekitarnya. Mengondisikan lingkungan ini dapat berupa modifikasi ruangan atau lingkungan tempat klien berada agar dapat tercipta kenyamanan pasien saat berada ditempat itu.
Upaya meningkatkan kenyamanan pasien lainnya adalah dengan membantu usaha pemenuhan kebutuhannya. Dengan memenuhi kebutuhannya pasien akan merasa lebih tenang dan lebih nyaman.
c. Hospice care
Hospice care merupakan suatu cara perawatan dengan mengondisikan suatu tempat sesuai dengan keadaan rumah yang disertai pula dengan alat-alat kesehatan.
d. Home care
Home care merupakan perawatan pasien yang dilakukan dirumah.
Minimalisasi penggunaan obat karena kondisi pasien menjelang ajal sudah tidak mampu lagi untuk melakukan fungsinya seperti biasa. Sehingga dengan meminimalisasi penggunaan obat dapat mengurangi kinerja organ tubuh.
e. Kebutuhan psikososial
f. Kebutuhan spiritual
Usaha perawat dalam pemenuhan kebutuhan pasien salah satunya dengan memenuhi kebutuhan spiritualnya. Pemenuhan kebutuhan spiritual dapat diupayakan dengan membantu mendatangkan guru spiritual untuk pasien. Tujuannya adalah agar spiritual pasien dapat ditingkatkan dan spiritualitas pasien dapat terjaga.
Kebutuhan utama seorang pasien yang menjelang ajal adalah kebutuhan akan spiritual. Terpenuhinya kebutuhan ini akan membantu klien untuk tetap tenang menghadapi kondisinya. Salah satu yang dibutuhkan klien dalam pemenuhan kebutuhan spiritualnya adalah melaksanakan kegiatan-kegiatan religiusnya seperti sembahyang. Perawat dapat memfasilitasinya agar pasien dapat memenuhi kebutuhannya untuk sembahyang.
g. Dukungan pada keluarga
Motivasi yang dapat diberikan seorang perawat kepada keluarga pasien bertujuan agar keluarga pasien tetap tabah dan dapat menerima kondisi yang terjadi pada pasien.
h. Pendidikan dan pengetahuan kepada klien dan keluarga
2. Komunikasi verbal yang dapat dilakukan seorang perawat sesuai dengan tahapan duka yang dikemukakan Kubler Ross :
Menurut Kubler Ross tahapan berduka dapat dibagi menjadi lima tahapan diantaranya tahap menyangkal, tahap marah,tahap tawar-menawar, tahap depresi, dan yang terakhir tahap penerimaan. Berdasarkan tahap ini perawat dapat dilakukan komunikasi verbal terhadap pasien yang mengalami tahap duka seperti di atas dengan penjelasan di bawah ini.
a. Tahap Menyangkal
Dalam tahap ini pasien biasanya menyangkal dan tidak bisa menerima dan di ajak bicara oleh karena iya tidak percaya terhadap penyakit yang dideritanya. Dalam hal iniperawat dapat melakukan komunikasi verbal dengan mengatakan : “ baik ibu atau bapak saya akan memberikan ibu/bapak waktu untuk berfikir, mungkin ibu/bapak membutuhkan waktu untuk menghadapi hal ini. Jika ibu/bapak ingin berkoonsultasi ibu/bapak bisa hubungi saya. Saat iya belum mempercayai penyakitnya pasien biasanya membutuhkan waktu untuk berfikir agar iya dapat menerima dan lebih merasa tenang. Karena pasien biasanya belum bisa untuk di ajak bicara atau melakukankomunikasi yang baik.
b. Tahap Marah
Dalam tahap ini pasien biasanya meluapkan semua emosianya baik terhadap dirinya sendiri atau pada orang sekitarnya. Pasien dapat melakukan komunikasi verbal dengan mengatakan : “ baik ibu/bapak silakan ibu melampiaskan semua kemarahan yang ibu/bapak rasakan asalkan ibu/bapak tidak menyakiti diri ibu/bapak sendiri” . Karena dalam tahap ini pasien biasanya tidak bisa diajak bicara karena emosi yang iya rasakan dan terkadang pasien menyakiti dirinya sendiri, dalam meluapkan emosinya. Maka dari itu perlunya komunikasi verbal yang baik dalam menangani hal ini.
c. Tahap Tawar-menawar
Dalam tahap ini biasanya pasien sering menyalahkan tuhan dan mengatakan kenapa saya harus menerima semua ini dan saya sangat rela apabila saya kehilangan semua milik saya dari pada menderita penyakit ini. Dalam hal iipasien dapatmelakukan komunikasi verbal dengan mengatakan : “ ibu/bapak tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya kalau umatnya tidak sanggup untuk melaluinya. Di balik ini semua mungkin tuhan sudah menyediakan jalan yang lebih baik untuk ibu/bapak.
d. Tahap Depresi
Cenderung dalam tahap ini pasien menutup diri dan tidak mau untuk melakukan komunikasi terhadap siapa pun. Komunikasi verbal yang dapatdilakukan oleh perawat: menanyakan hai-hal yang umumuntuk menarik perhatian pasien seperti “ apakah ibu sudah makan?, bagaimana kondisi ibu saat ini? “ apabila pasien tidak juga merespon apa yangperawat tanyakan, perawat melakukan komunikasi verbal dengan cara : ibu/bapak tidak mau bercerita?,beri penjelasan mengenai manfaat berkomunikasi. “ ibu/bapak dengan melakukan komunikasi atau ibi/bapak mau bercerita beban yang ibu/bapak rasakan akan terasa lebih ringan. Siapa tahu bisa memberikan masukan ataupun solusi dalam menghadapi penyakit ini. Atauibu/bapak memiliki seseorang yang biasa ibu/bapak ajak? Kalau ada saya akan memanggilkannya.” Dengan memberikan kominikasi seperti hal ini pasien akan lebih merasa percaya dan tenang dalam menghadapi penyakitnya dan perlahan-lahan akan membuka dirinya.
e. Tahap Penerimaan
Dalam tahap ini pasien sudah menerima kondisi dan keadaan sakit yang dia hadapi. Disini perawat sudah dapat mengajak pasien dalam menjalankan komunikasi terarah. Dalam tahapini pasien akan merasa lebih tenang dan lebih nyaman dalam menjalani penyakitnya. Perawat dalam hal ini dapat melakukan komunikasi verbal dengan mengatakan : “ ibu/bapak ada yang bisa saya bantu untuk kenyamanan dan ketenangan ibu?, apa yang ibu ingin lakukan agar merasa lebih nyaman apa ini/bapak mau membaca buku, menulis atau yang lainnya? Jika ada ibu dapat mengatakannya kepada saya dan saya akan membantunya.”
3. Respon non verbal yang harus ditunjukkan perawat dalam setiap tahap berduka menurut Kubler Ross
· Menyangkal
- Tetap berada disamping klien
- Lihat klien dengan tatapan penuh perhatian
- Menjaga keamanan klien
· Marah
- Menjaga keamanan klien dari benda-benda sekitarnya
- Memeriksa kondisi klien
- Cek tanda-tanda vital klien
- Respon nonverbal perawat sesuai dengan respon verbal
- Tunjukkan sikap kepedulian
· Tawar menawar
- Menemani klien untuk menghadapi situasi yang dihadapi
· Depresi
- Menunjukkan sikap sabar dan berusaha untuk mendengar keluh kesah yang dirasakan oleh klien maupun keluarga
- Menunjukkan sikap mengerti dengan mengangguk
- Memberikan support kepada klien dan keluarga
- Memperlihatkan kesabaran dengan mengelus-elus klien
· Penerimaan
- Memberikan respon yang baik dengan penerimaan
4. Algor mortis, Liver mortis, dan Rigor mortis merupakan perubahan-perubahan tubuh setelah kematian yang dapat ditemukan pada pasien yang telah meninggal, secara eksplisit dapat dijelaskan sebagai berikut:
5. Mekanisme koping yang dapat digunakan perawat dalam menghadapi pasien sakaratul adalah menyiapkan mental dan perasaan dengan baik, kompensasi yaitu menurunkan citra diri kearah yang mensuport klien sebelum kepergiannya. Intelektualisasi (intelectualization) yaitu Pengguna logika dan alasan yang berlebihan untuk menghindari pengalaman yang mengganggu perasaannya. Dimana perawat dapat menggunakan logika bahwa setiap manusia pada akhirnya akan meninggal juga meskipun dengan cara yang berbeda-beda , sehingga perawat dapat lebih menyiapkan mentalnya dalam menghadapi pasien sakaratul.
a) Physiological needs
b) Promoting comfort
c) Hospiece care
d) Home care
e) Psychososial needs
f) Spiritual needs
g) Support for the family
h) Learning needs of client and family
2. Susun kata-kata atau kalimat (respon verbal) perawat dalam setiap tahap berduka menurut Kubler Ross !
3. Apa respon non verbal yang harus ditunjukkan perawat dalam setiap tahap berduka menurut Kubler Ross ?
4. Apa yang anda ketahui tentang Algor Mortis, Liver Mortis, dan Rigor Mortis pada pasien yang telah meninggal ?
5. Sebutkan mekanisme koping yang harus digunakan perawat dalam menghadapi pasien yang dalam kondisi sakaratul maut !
JAWABAN :
1. Tindakan perawat dalam perawatan dan pemenuhan kebutuhan pasien menjelang ajal (masing-masing dua tindakan) dikaitkan dengan aspek-aspek berikut:
a. Kebutuhan fisiologis
Pemenuhan kebutuhan klien menjelang ajal berkaitan dengan pemenuhan nutrisi berbeda dengan klien yang kondisinya normal. Kondisi pasien yang menjelang ajal sudah tidak mampu untuk mencerna makanan seperti biasa. Oleh karena itu, tindakan perawat dalam pemenuhan nutrisi pasien seperti ini membutuhkan tindakan berbeda. Pemenuhan nutrisi klien dapat diusahakan oleh perawat dengan mengganti asupan nutrisi biasa menggunakan asupan nutrisi melalui cairan atau infus.
Kebutuhan fisiologis lainnya yaitu oksigen. Semua makhluk hidup termasuk klein atau pasien membutuhkan oksigen untuk bernapas. Pasien dengan kondisi menjelang ajal juga diperlakukan secara humanistik dan tidak dibedakan dengan pasien dengan harapan hidup yang lebih tinggi. Kemampuan pasien dengan kondisi seperti ini sudah sulit untuk memenuhi kebutuhan oksigen dengan cara yang biasa. Perawat bertugas untuk memberikan tindakan untuk membantu pasien untuk dapat memenuhi kebutuhan oksigenasinya, salah satunya dengan memberikan alat bantu pernapasan.
b. Peningkatan kenyamanan
Upaya atau tindakan perawat dalam meningkatkan kebutuhan akan kenyamanan pasien salah satunya yaitu dengan mengondisikan lingkungan pasien. Tujuannya adalah untuk meningkatkan rasa nyaman pasien dengan lingkungan disekitarnya. Mengondisikan lingkungan ini dapat berupa modifikasi ruangan atau lingkungan tempat klien berada agar dapat tercipta kenyamanan pasien saat berada ditempat itu.
Upaya meningkatkan kenyamanan pasien lainnya adalah dengan membantu usaha pemenuhan kebutuhannya. Dengan memenuhi kebutuhannya pasien akan merasa lebih tenang dan lebih nyaman.
c. Hospice care
Hospice care merupakan suatu cara perawatan dengan mengondisikan suatu tempat sesuai dengan keadaan rumah yang disertai pula dengan alat-alat kesehatan.
d. Home care
Home care merupakan perawatan pasien yang dilakukan dirumah.
Minimalisasi penggunaan obat karena kondisi pasien menjelang ajal sudah tidak mampu lagi untuk melakukan fungsinya seperti biasa. Sehingga dengan meminimalisasi penggunaan obat dapat mengurangi kinerja organ tubuh.
e. Kebutuhan psikososial
f. Kebutuhan spiritual
Usaha perawat dalam pemenuhan kebutuhan pasien salah satunya dengan memenuhi kebutuhan spiritualnya. Pemenuhan kebutuhan spiritual dapat diupayakan dengan membantu mendatangkan guru spiritual untuk pasien. Tujuannya adalah agar spiritual pasien dapat ditingkatkan dan spiritualitas pasien dapat terjaga.
Kebutuhan utama seorang pasien yang menjelang ajal adalah kebutuhan akan spiritual. Terpenuhinya kebutuhan ini akan membantu klien untuk tetap tenang menghadapi kondisinya. Salah satu yang dibutuhkan klien dalam pemenuhan kebutuhan spiritualnya adalah melaksanakan kegiatan-kegiatan religiusnya seperti sembahyang. Perawat dapat memfasilitasinya agar pasien dapat memenuhi kebutuhannya untuk sembahyang.
g. Dukungan pada keluarga
Motivasi yang dapat diberikan seorang perawat kepada keluarga pasien bertujuan agar keluarga pasien tetap tabah dan dapat menerima kondisi yang terjadi pada pasien.
h. Pendidikan dan pengetahuan kepada klien dan keluarga
2. Komunikasi verbal yang dapat dilakukan seorang perawat sesuai dengan tahapan duka yang dikemukakan Kubler Ross :
Menurut Kubler Ross tahapan berduka dapat dibagi menjadi lima tahapan diantaranya tahap menyangkal, tahap marah,tahap tawar-menawar, tahap depresi, dan yang terakhir tahap penerimaan. Berdasarkan tahap ini perawat dapat dilakukan komunikasi verbal terhadap pasien yang mengalami tahap duka seperti di atas dengan penjelasan di bawah ini.
a. Tahap Menyangkal
Dalam tahap ini pasien biasanya menyangkal dan tidak bisa menerima dan di ajak bicara oleh karena iya tidak percaya terhadap penyakit yang dideritanya. Dalam hal iniperawat dapat melakukan komunikasi verbal dengan mengatakan : “ baik ibu atau bapak saya akan memberikan ibu/bapak waktu untuk berfikir, mungkin ibu/bapak membutuhkan waktu untuk menghadapi hal ini. Jika ibu/bapak ingin berkoonsultasi ibu/bapak bisa hubungi saya. Saat iya belum mempercayai penyakitnya pasien biasanya membutuhkan waktu untuk berfikir agar iya dapat menerima dan lebih merasa tenang. Karena pasien biasanya belum bisa untuk di ajak bicara atau melakukankomunikasi yang baik.
b. Tahap Marah
Dalam tahap ini pasien biasanya meluapkan semua emosianya baik terhadap dirinya sendiri atau pada orang sekitarnya. Pasien dapat melakukan komunikasi verbal dengan mengatakan : “ baik ibu/bapak silakan ibu melampiaskan semua kemarahan yang ibu/bapak rasakan asalkan ibu/bapak tidak menyakiti diri ibu/bapak sendiri” . Karena dalam tahap ini pasien biasanya tidak bisa diajak bicara karena emosi yang iya rasakan dan terkadang pasien menyakiti dirinya sendiri, dalam meluapkan emosinya. Maka dari itu perlunya komunikasi verbal yang baik dalam menangani hal ini.
c. Tahap Tawar-menawar
Dalam tahap ini biasanya pasien sering menyalahkan tuhan dan mengatakan kenapa saya harus menerima semua ini dan saya sangat rela apabila saya kehilangan semua milik saya dari pada menderita penyakit ini. Dalam hal iipasien dapatmelakukan komunikasi verbal dengan mengatakan : “ ibu/bapak tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya kalau umatnya tidak sanggup untuk melaluinya. Di balik ini semua mungkin tuhan sudah menyediakan jalan yang lebih baik untuk ibu/bapak.
d. Tahap Depresi
Cenderung dalam tahap ini pasien menutup diri dan tidak mau untuk melakukan komunikasi terhadap siapa pun. Komunikasi verbal yang dapatdilakukan oleh perawat: menanyakan hai-hal yang umumuntuk menarik perhatian pasien seperti “ apakah ibu sudah makan?, bagaimana kondisi ibu saat ini? “ apabila pasien tidak juga merespon apa yangperawat tanyakan, perawat melakukan komunikasi verbal dengan cara : ibu/bapak tidak mau bercerita?,beri penjelasan mengenai manfaat berkomunikasi. “ ibu/bapak dengan melakukan komunikasi atau ibi/bapak mau bercerita beban yang ibu/bapak rasakan akan terasa lebih ringan. Siapa tahu bisa memberikan masukan ataupun solusi dalam menghadapi penyakit ini. Atauibu/bapak memiliki seseorang yang biasa ibu/bapak ajak? Kalau ada saya akan memanggilkannya.” Dengan memberikan kominikasi seperti hal ini pasien akan lebih merasa percaya dan tenang dalam menghadapi penyakitnya dan perlahan-lahan akan membuka dirinya.
e. Tahap Penerimaan
Dalam tahap ini pasien sudah menerima kondisi dan keadaan sakit yang dia hadapi. Disini perawat sudah dapat mengajak pasien dalam menjalankan komunikasi terarah. Dalam tahapini pasien akan merasa lebih tenang dan lebih nyaman dalam menjalani penyakitnya. Perawat dalam hal ini dapat melakukan komunikasi verbal dengan mengatakan : “ ibu/bapak ada yang bisa saya bantu untuk kenyamanan dan ketenangan ibu?, apa yang ibu ingin lakukan agar merasa lebih nyaman apa ini/bapak mau membaca buku, menulis atau yang lainnya? Jika ada ibu dapat mengatakannya kepada saya dan saya akan membantunya.”
3. Respon non verbal yang harus ditunjukkan perawat dalam setiap tahap berduka menurut Kubler Ross
· Menyangkal
- Tetap berada disamping klien
- Lihat klien dengan tatapan penuh perhatian
- Menjaga keamanan klien
· Marah
- Menjaga keamanan klien dari benda-benda sekitarnya
- Memeriksa kondisi klien
- Cek tanda-tanda vital klien
- Respon nonverbal perawat sesuai dengan respon verbal
- Tunjukkan sikap kepedulian
· Tawar menawar
- Menemani klien untuk menghadapi situasi yang dihadapi
· Depresi
- Menunjukkan sikap sabar dan berusaha untuk mendengar keluh kesah yang dirasakan oleh klien maupun keluarga
- Menunjukkan sikap mengerti dengan mengangguk
- Memberikan support kepada klien dan keluarga
- Memperlihatkan kesabaran dengan mengelus-elus klien
· Penerimaan
- Memberikan respon yang baik dengan penerimaan
4. Algor mortis, Liver mortis, dan Rigor mortis merupakan perubahan-perubahan tubuh setelah kematian yang dapat ditemukan pada pasien yang telah meninggal, secara eksplisit dapat dijelaskan sebagai berikut:
5. Mekanisme koping yang dapat digunakan perawat dalam menghadapi pasien sakaratul adalah menyiapkan mental dan perasaan dengan baik, kompensasi yaitu menurunkan citra diri kearah yang mensuport klien sebelum kepergiannya. Intelektualisasi (intelectualization) yaitu Pengguna logika dan alasan yang berlebihan untuk menghindari pengalaman yang mengganggu perasaannya. Dimana perawat dapat menggunakan logika bahwa setiap manusia pada akhirnya akan meninggal juga meskipun dengan cara yang berbeda-beda , sehingga perawat dapat lebih menyiapkan mentalnya dalam menghadapi pasien sakaratul.
Langganan:
Postingan (Atom)